Akidah Ahlaq
Alam Ghaib
Disusun oleh
: IX C
1. Abie Tareq A
2. Afrizal
3. Agung Panggraita
4. Fatah Nur F
5. Fikri Arianto
6. Irvan Abiddin N
7. M Ma’ruf Assegaf F
8. Pradita Ramadhani
9. Reza Aditya Saputra
10. Rofiq Maulana
11. Sugi Prasetia
12. Sanny Akbar P
13. Ujang Munanjar
PENGERTIAN
ALAM GHAIB
Ghaib secara bahasa adalah sesuatu yang tidak tampak. Sedangkan ghaib
menurut istilah adalah sesuatu yang tidak tampak oleh panca indra tapi ada
dalil tertulis yang menjelaskan akan keberadaannya. Apabila ada dalil dari ayat
atau hadits yang shahih akan keberadaan sesuatu yang ghaib itu lalu diingkari,
maka pengingkaran itu bisa menjadikan pelakunya kafir. Karena dia telah
mengingkari bagian dari ajaran agama yang penting.
Misalnya keberadaan makhluk Allah yang bernama jin. Allah telah
menginformasikan kepada kita semua akan keberadaan jin di dalam al-Qur’an
bahkan salah satu dari surat al-Qur’an ada yang bernama surat Jin, yaitu surat
ke 72. Allah berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Begitu juga dalam hadits
Rasulullah telah bersabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya dan jin diciptakan
dari nyala api dan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepada kalian
(tanah).” (HR. Muslim).
Dalam ayat dan hadits di atas dijelaskan bahwa Allah telah menciptakan Jin
sebagaimana Dia telah menciptakan manusia dan malaikat. Berarti keberadaan jin
tidak boleh kita ingkari, walaupun kita tidak bisa melihat wujud dan keberadaan
mereka, sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah “Sesungguhnya ia (iblis) dan
teman-temannya melihat kamu (manusia) dari suatu tempat yang kamu tidak bisa
melihat mereka.” (QS. Al-Araf: 27). Oleh sebab itu makhluk Allah yang bernama
jin itu dikategorikan sebagai makhluk ghaib, yang informasi keberadaannya ada
dalam nash (teks), tapi kita tidak bisa melihatnya dengan panca indra kita.
Al-Quran sendiri telah menyebutkan kata “ghaib” kurang lebih sebanyak 56
kali. Dan di permulaan surat al-Baqarah, Allah meyebutkan salah satu dari
karakter orang-orang yang beftaqwa adalah, orang-orang yang beriman kepada yang
ghaib. “Alif Lam Mim. Kitab al-Qur’an ini tidak ada keraguan didalam padanya,
petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang
ghaib..” (QS. Al-Baqarah: 1 - 3).
Ayat tersebut sebagai dalil akan pentingnya mengetahui hal yang ghaib
secara benar, lalu mempercayainya dan menjadikannya sebagai pilar-pilar
keimanan. Kalau kita salah dalam memahami hal yang ghaib, berarti salah pula
pilar iman yang kita miliki. Maka dari itu untuk memahami hal yang ghaib kita
membutuhkan referensi yang valid dan akurat, agar tidak menghasilkan pemahaman
yang salah dan menyimpang. Dan referensi itu bernama al-Qur’an dan al-Hadits.
Seorang ahli tafsir yang bernama Abul Aliyah berkata, “Yang dimaksud dengan
ghaib pada ayat tersebut adalah Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya,
Rasul-rasul-Nya, dan Hari akhir, Surga dan Neraka-Nya, pertemuan dengan-Nya
serta hari kebangkitan dan kehidupan setelah kematian”. (Tafsir lbnu Katsir:
l/45). Dan kalau kita
kalkulasi jumlah prosentase hal yang ghaib di sekitar kita terutama masalah
aqidah, maka akan kita dapatkan prosentase hal yang ghaib dan harus kita
percayai akan lebih banyak jumlahnya dari pada yang nyata. Tapi karena
keberadaannya ada dalam al-Qur’an dan disebutkan Rasulullah dalam haditsnya
yang shahih, maka kita sebagai orang yang beriman dan bertaqwa harus
mempercayainya dan meyakini dengan seyakin-yakinnya tanpa ragu sama sekali.
Jadi, kita tidak boleh bicara tentang suatu yang ghaib hanya berdasarkan
akal pikiran belaka, atau bersumber dari bisikan-bisikan ghaib, mimipi-mimpi,
atau mitos-mitos yang berkembang. Kesemuanya itu harus kita filter dengan
syari’at lslam. Bila sesuai dan disahkan oleh syariat, berarti kita terima dan
kita jadikan sebagai pilar keimanan. Tapi bila menyimpang dari syari’at atau
bertolak belakang, maka harus kita tolak kebenarannya.
Masalah ghaib tidak hanya seputar kehidupan jin dan syetan sebagaimana yang
banyak diekspos oleh media massa akhir-akhir ini. Karena jin dan syetan hanya
bagian kecil dari masalah keghaiban yang sangat luas cakupannya. Kita belum
pernah melihat suratan taqdir kita dalam mengarungi kehidupan di dunia ini,
tapi kita harus percaya akan adanya takdir yang telah digariskan Allah untuk
kita, yang baik maupun yang buruk. Begitu juga dengan umur kita, Allah telah
menentukan batasannya dan kita harus mempercayainya, walaupun kita belum tahu
berapa lama ketentuan umur kita. Dan masih banyak hal yang berkaitan dengan
kehidupan kita, yang masuk dalam kategori ghaib karena tidak bisa kita indra
dengan panca indra kita.
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang
mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan
dan di lautan, dan tiada selembar daun pun yang gugur melainkan Dia
mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan
tiada suatu pun yang basah dan kering, melainkan tertulis dalam kitab yang
nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS. Al-An’am: 59).
Ø MACAM-MACAM
ALAM GAIB
Allah telah menciptakan beberapa alam yang dilalui oleh makhluk-Nya
terutama manusia, manusia telah menempati tiga alam, yaitu alam azali, alam
rahim, dan alam dunia. Alam azali ialah tempat di mana ruh yang telah
diciptakan Allah SWT. bertempat tinggal sebelum bergabung dengan jasad. Alam
rahim ialah tempat di mana cikal bakal manusia berupa janin atau bayi bertempat
tinggal selama lebih kurang Sembilan bulan. Alam dunia ialah merupakan tempat
manusia hidup setelah dilahirkan dari alam rahim.
Sesuai dengan kehendak Allah SWT. alam dunia ini akan hancur luluh yang
disebut dengan kiamat atau hari akhir.setelah hari akhir bui menjadi hancur,
semua makhluk akan mati, maka alam pun diganti dengan beberapa alam baru yang
disebut alam gaib yaitu; alam barzah/kubur, alam akhirt/mahsyar, alam hisab,
mizan, surge dan neraka.
Berikut ini
penjelasan tentang beberap ala gaib yang berhubungan dengan hari akhir, yaitu:
1.Alam
Barzah
Barzakh (bahasa
Arab
برزخ) adalah alam kubur yang membatasi
antara dunia dan akhirat. Barzakh menjadi
tempat persinggahan sementara jasad makhluk sampai
dibangkitkannya pada hari kiamat. Penghuni barzakh berada di tepi dunia (masa lalu) dan
akhirat (masa depan). Menurut syariat
Islam
di alam Barzakh ini, sang mayat akan bertemu dengan para Malaikat Munkar
dan Nakir,
sedangkan ada pendapat lain ada yang mengatakan jika yang mereka datangi adalah
orang mukmin yang diberi
taufik, maka yang akan datang adalah para malaikat yang bernama Mubassyar dan
Basyir.
Secara harfiah Barzakh berarti jarak waktu
atau penghalang antara 2 hal dan tidak ada yang sanggup melewatinya. Menurut
syariat Islam barzakh berarti tempat yang berada di antara maut dan
kebangkitan, menurut firman Allah dalam Al-Quran Surah Al
Mu'minuun: 100,
|
“Di hadapan mereka ada dinding sampai
hari mereka dibangkitkan.” Ia menjawab, itu adalah alam antara kematian dan
kebangkitan kembali. (Q.S Al Mu'minuun, Ayat 100)”
|
|
Dengan
kata lain tempat yang disebut barzakh adalah mulai dari waktu kematian sampai
dibangkitkan hidup kembali.
v
Keadaan mayat
Seseorang yang telah mati tidak
akan mengetahui kehidupan dari orang yang masih hidup karena ia tinggal di
dalam dunia yang benar-benar beda. Bagaimanapun, dikisahkan bahwa seseorang
yang mati dapat merasakan langkah kaki dari orang berjalan.
Dikisahkan bahwa Muhammad melihat seseorang
yang berada di dalam sumur, yang mana tubuh dari engkau menemukan kebenaran
tentang Tuhan yang dijanjikan kepadamu?" Umar bertanya, "Engkau
menyapa orang mati." Muhammad menjawab, "Mereka mendengar lebih baik
dari pada kamu, tetapi mereka tidak bisa membalasnya."
Manusia sudah akan mengetahui nasibnya
ketika mereka berada di barzakh. Apakah termasuk penghuni surga atau neraka.
Jika seseorang menjadi penghuni surga, maka dibukakan baginya pintu surga, hawa
sejuk surga akan mereka rasakan setiap pagi dan sore. Sebaliknya jika menjadi
penghuni neraka, pintu neraka pun akan dibukakan untuknya dan dia akan
merasakan hawa panas neraka setiap pagi dan sore.
Al-Barra bin ’Azib menceritakan
hadits yang panjang yang diriwayat Imam
Ahmad
tentang perjalanan seseorang setelah kematian. Seorang mukmin yang akan
meninggal dunia disambut ceria oleh malaikat dengan membawa
kain kafan dari surga. Kemudian datang malaikat maut duduk di atas kepalanya
dan memerintahkan roh yang baik untuk
keluar dari jasadnya.
Selanjutnya disambut oleh malaikat dan
ditempatkan di kain kafan surga dan diangkat ke langit. Penduduk langit
dari kalangan malaikat menyambutnya, sampai di langit terakhir bertemu Allah, kemudian Allah
memerintahkan pada malaikat untuk mencatat kitab hamba-Nya ke dalam ’illiyiin
dan dikembalikan rohnya ke Barzakh. Setelah dikembalikan lagi roh itu ke
jasadnya dan datanglah dua malaikat, Munkar
dan Nakir
yang akan bertanya kepada sang mayat. Pertanyaan itu adalah;
"Siapa
yang mengajarimu?"
Menurut syariat
Islam,
hanya orang yang beriman saja yang dapat menjawabnya dengan baik. Maka kemudian
akan diberi alas dari surga, mendapat kenikmatan di kubur dengan selalu
dibukakan baginya pintu surga, dilapangkan dan diterangkan kuburnya. Sang mayat
akan mendapat teman yang baik dengan wajah yang baik, pakaian yang baik dan
aroma yang baik. Lelaki itu adalah gambaran dari amal perbuatannya selama hidup
di dunia. Keadaan berubah sebaliknya jika si mayat adalah orang yang tidak
beriman.
v
Azab Kubur
Azab Kubur
menurut Ibnu
Taimiyah menyelaraskan dengan para ulama lainnya, bahwa roh-roh orang
beriman berada di surga, walaupun bersamaan dengan itu rohnya dikembalikan ke jasad, sama halnya
dengan roh berada di jasad, tetapi rohnya naik ke langit seperti pada saat
tidur. Adapun bahwa rohnya berada di surga itu berdasarkan hadits-hadits umum.
Hal ini ditegaskan oleh Imam Ahmad dan ulama lainnya. Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang umum dan
hadits yang khusus mengenai tidur dan lain-lainnya. Mengenai azab kubur Mahzab
Ahlusunah berpendapat bahwa azab kubur mengenai roh itu baik terpisah dari
jasad atau berhubungan dengan jasad, sedangkan Ibnu Taimiyah berkata azab dan
kenikmatan menimpa jasad dan jiwa sekaligus.
v Hadits
tentang azab kubur
Ada hadits yang
menceritakan tentang siksa kubur, di antaranya adalah dari Ibnu Abbas. Ia berkata,
Nabi Muhammad melewati salah satu dinding dari dinding-dinding Madinah atau Makkah, lalu dia mendengar suara dua orang
manusia yang sedang disiksa di dalam kuburnya. Nabi bersabda, "Dua orang
sedang disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar." Kemudian dia
bersabda, "Yang seorang tidak bertirai dalam berkencing dan yang lain berjalan
dengan mencaci maki." Kemudian dia minta diambilkan pelepah korma yang
basah, lalu dibelah menjadi dua dan dia letakkan pada masing-masing kuburan itu
satu belahan. Lalu dikatakan, "Wahai rasulullah, kenapakah engkau perbuat
ini??" Dia bersabda, "Mudah-mudahan keduanya diringankan selama dua
belah ini belum kering?"
"Dari Ibnu Abbas, ia berkata,
Nabi Muhammad berjalan melalui dua buah kubur, lalu dia bersabda, Sesungguhnya
orang yang ada di dalam kubur ini disiksa, tetapi bukannya disiksa karena mengerjakan
dosa besar. Adapun yang seorang dari pada keduanya itu tidak beristinja dengan
sebersih-bersihnya dari kencingnya, sedangkan yang lain ini suka berjalan
dengan menyampaikan kata-kata yang berupa adu domba. Kemudian dia mengambil
setangkai pelepah kurma yang masih basah, lalu membelahnya menjadi dua bagian,
kemudian setiap belahan tadi dipancangkan pada setiap kubur (yakni
masing-masing dari dua buah kubur itu diberi separuh belahannya). Para sahabat
bertanya, "Wahai rasulullah, mengapa engkau melakukan ini??" Dia
bersabda, "Mudah-mudahan keduanya diringankan selama dua belahan itu belum
kering"
v Keadaan
roh dalam Barzakh
Roh
mereka berada di tempat yang paling baik dan paling tinggi.
Roh
para syuhada berada di tengah-tengah burung hijau dan memiliki
lampu yang tergantung di langit, roh itu dapat keluar dari surga sekehendaknya,
kemudian bisa kembali ke pelita tersebut, menurut kisah dari Masruq ketika bertanya
kepada Abdullah Bin Mas’ud.[6]. Firman Allah
dalam Ali Imran: 169, “ Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur
dijalan Allah itu mati, tetapi mereka itu di sisi Tuhannya dengan mendapat
rezeki.” (Ali Imran: 169).
Roh
sebagian syuhada dan bukan semua syuhada, sebab di antara meraka ada yang
rohnya tertahan karena memiliki hutang yang belum ditunaikan. Dari Abdullah Bin Jahsy diceritakan bahwa
ada seorang lelaki datang kepada Muhammad dan bertanya, ”Ya rasulullah apa yang
terjadi padaku jika akau terbunuh dijalan Allah?” Muhammad menjawab, “Syurga,”
Ketika orang berpaling, Dia berpaling” kecuali ada hutang, baru saja Jibril memberi tahu aku.”
Roh
mereka seperti burung yang begelantungan di pohon surga sampai dikembalikan
oleh Allah ke jasadnya pada hari kiamat.[7] Perbedaan antara
roh para syuhada dengan roh kaum mukmin adalah bahwa roh syuhada berada di
sangkar burung hijau sambil terlepas berjasan ke sana kemari di taman syurga,
lalu kembali ke lampu pelita yang tergantung di 'Arasy, sedangkan roh
kaum mukmin berada di sangkar burung tergantung di surga tetapi tidak berjalan
ke sana-ke sini di surga.
Nash-nash
yang menjelaskan azab yang diterima oleh orang yang suka maksiat telah
dikemukakan. Orang yang kebohongannya merajalela di azab dengan besi yang
ujungnya bengkok yang dimasukan kemulutnya sampai ke tengkuk. Kepala orang yang
meninggalkan salat wajib karena tidur, kepalanya akan dihancurkan dengan batu.
Bagi para Pezina Laki-laki dan Perempuan akan disiksa di sebuah lubang seperti
tungku dari tembikar untuk membakar roti yang bagian atasnya sempit dan di
bawahnya luas, sementara api menyala-nyala di bawahnya. Orang yang suka makan
Riba berenang di lautan darah dan di tepi lautan darah itu ada orang yang
melemparinya dengan batu. Demikian juga dengan orang yang suka mengadu domba di
antara manusia dan juga orang yang menyembunyikan harta ghanimah dan lainnya.
Disebutkan
dalam hadits Abu Hurairah bahwa setelah melukiskan keadaan orang beriman sampai
menempati tempatnya di surga, Muhammad menyebut keadaan orang kafir beserta
sekarat yang dialaminya. Setelah rohnya dicabut, roh yang keluar dari jasad
orang kafir baunya busuk sampai para malaikat yang membawanya ke pintu bumi
berteriak, “Alangkah busuknya roh ini.” Kemudian mereka membawanya bertemu
dengan roh-roh kafir lainnya.
2. Alam
Mahsyar
Mahsyar (Arab: محشر) adalah dataran yang sangat luas tempat
berkumpul para makhluk pertama, hingga makhluk yang terakhir hidup. Dataran
Mahsyar berada di alam akhirat, dan dikatakan berpasir, tidak terlihat
tinggi maupun rendah.
Di Mahsyar inilah semua makhluk Allah yang berada di
tujuh lapis langit dan bumi termasuk malaikat, jin, manusia, binatang berkumpul dan
berdesak-desakan. Setiap manusia pada hari pengadilan akan hadir di mahsyar,
diiringi oleh dua malaikat, yang satu sebagai pengiringnya dan yang satu lagi
sebagai saksi atas segala perbuatannya di dunia.
Menurut ajaran Islam, manusia yang pertama
kali dibangkitkan oleh Allah adalah Muhammad. Hari-hari di
Mahsyar itu disebut sebagai Yawm al Mahsyar (يوم المحشر, Yaumul Hasyir). Kemudian dikatakan dalam sebuah hadits oleh Muhammad
bahwa Palestina adalah tanah Mahsyar
(dikumpulkan) dan Mansyar (disebarkan) manusia. Di Indonesia, tanah
Mahsyar ini lebih dikenal dengan sebutan Padang Mahsyar, begitupula dengan
orang-orang yang berbahasa Melayu.
Keadaan manusia pada hari kebangkitan
berbeda-beda sesuai dengan amal ibadahnya di dunia. Setelah fase kebangkitan
makhluk dari alam kubur, maka manusia dan makhluk lainnya akan memasuki fase di
Mahsyar, yang selanjutnya akan diberikan/ dihadapkan;
Kita
akan
menerima buku catatan amal kita masing-masing.
Mizan Kemudian akan
dihadapkan sebuah neraca yang akan menimbang antara pahala dan dosa setiap
makhluk.
Haudh (telaga) setiap nabi akan memiliki
telaga ini. Menurut ajaran Islam, Muhammad memiliki telaga yang diberi
nama Kautsar, namun hanyalah calon penduduk surga yang dapat
meminum airnya, dan para
penguasa zalim dan pelaku
bid'ah dilarang untuk mendekatinya.
Selama hari yang sangat menyiksa itu,
Muhammad akan memberikan pertolongan untuk seluruh makhluk yang disebut sebagai
Syafa'at Udhma, ia akan memohon kepada Allah supaya secepatnya diadakan
hisab.
Keadan manusia akan tergantung dari amalan
apa yang telah mereka kerjakan semasa hidup, ketika itu semua manusia akan
sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sehingga anak tidak lagi mengenali
kedua orang tuanya, begitu pula sebaliknya.
Ketika Matahari padam sehingga bumi dalam kegelapan.
Takala mereka dalam keadaan demikian, langit di atas mereka
berputar-putar dan meledak pecah berkeping-keping selama 500 tahun sehingga
langit terbelah dengan segala kekuatannya kemudian meleleh dan mengalir
bagaikan perak yg dipanaskan hingga berwarna merah dan manusia bercampur baur
seperti serangga yang bertebaran
dalam keadaan telanjang kaki, tidak berpakaian dan berjalan kaki.
Kemudian matahari diterbitkan oleh Allah,
tepat di atas kepala dengan jarak hanya 2 busur, sehingga manusia terpanggang
oleh teriknya matahari yang intensitas panasnya telah dinaikkan dan keringat pun mengalir
deras, menggenangi padang mahsyar seiring dengan rasa takut yang luar biasa
karena mereka akan dihadirkan dihadapan Allah. Bagi orang yang beriman, beramal
shaleh serta banyak mengerjakan kebaikan akan terlindungi dari terik sengatan
sinar matahari.
Kemudian keringat tersebut naik ke badan mereka, sesuai
dengan tingkatan mereka dihadapan Allah. Bagi sebagian orang keringat akan
menggenang mencapai lutut, bagi sebagian lain mencapai pinggang dan bagi
sebagian lainnya mencapai lubang hidung bahkan ada
sebagian manusia nyaris tenggelam di dalamnya.
Bagi
orang yang beriman akan diberikan syafaat oleh Muhammad, syafaat itu berupa:
Dipercepatkan
pembicaraan dan dipermudahkannya memasuki surga,
Ditambahkan
timbangan pahala supaya lebih berat daripada dosa,
Dimasukkan
ke surga tanpa hisab.
Menurut ajaran Islam, manusia yang menerima
syafaat di Mahsyar adalah orang Islam yang selalu berzikir, bershalawat kepada
Muhammad, ikhlas membantu orang yang sedang kesulitan.
Pada hari ini dinamakan juga "Hari
Panggil Memanggil" di dalam Al
Qur'an
al-Mu'min 32 surah, karena semua orang yang berkumpul di mahsyar sebagian
memanggil sehagian yang lain untuk meminta pertolongan.
Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir
terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil. (Al-Mu'min 32)
|
Pengelompokkan
manusia
Umat
manusia
Pada
hari kebangkitan ini seluruh manusia akan dibangkitkan dalam 3 kelompok, yaitu:
Kelompok
yang berkendaraan,
Kelompok
yang berjalan kaki,
Kelompok
yang berjalan dengan wajahnya.
Ada
salah seorang sahabat yang menanyakan, bagaimana bisa sekelompok tersebut
berjalan dengan wajahnya, kemudian Muhammad menjawab
"Allah yg menjadikan mereka berjalan dengan kaki, pasti mampu membuat
mereka berjalan dengan wajah."
Dua
belas kelompok umat Islam
Pada
masa ini umat Islam datang secara berkelompok, berdasarkan surah An-Naba' dan
hadits shahih, Golongan itu adalah seperti berikut:
1. Dibangkitkan dari
kubur dengan keadaan tanpa tangan dan berkaki. Mereka adalah orang yang ketika
di dunia dulu suka mengganggu tetangganya.
2. Dibangkitkan dari
kubur dengan keadaan berupa babi
hutan.
Mereka adalah orang yang ketika hidupnya meringankan malas dan lalai dalam
salat.
3. Dibangkitkan dari
kubur dengan keadaan keledai, mereka Sedangkan perut membesar seperti gunung dan di dalamnya
penuh dengan ular dan kalajengking. Mereka ini adalah
orang yang enggan membayar zakat.
4. Dibangkitkan dari
kubur dengan keadaan darah memancut keluar dari mulut mereka. Mereka ini
adalah orang yang berdusta di dalam jual beli.
5. Dibangkitkan dari
kubur dengan keadaan berbau busuk lebih daripada bangkai. Mereka ini adalah
orang yang melakukan maksiat sembunyi-sembunyi kerana takut dilihat orang,
tetapi tidak takut kepada Allah.
6. Dibangkitkan dari
kubur dengan keadaan leher mereka terputus. Mereka adalah orang yang menjadi
saksi palsu.
7. Dibangkitkan dari
kubur tanpa mempunyai lidah dan dari mulut mereka mengalir keluar nanah serta darah. Meraka itu adalah
orang yang enggan memberi kesaksian di atas kebenaran.
8. Dibangkitkan dari
kubur dengan keadaan terbalik yaitu kepala kebawah dan kaki keatas, serta
farajnya mengeluarkan nanah yang mengalir seperti air. Meraka adalah
orang yang berbuat zina dan mati tanpa sempat bertaubat.
9. Dibangkitkan dari
kubur dengan keadaan wajah hitam gelap dan bermata biru serta perutnya dipenuhi
api. Mereka itu adalah
orang yang memakan harta anak yatim dengan cara zalim.
10.
Dibangkitkan
dari kubur dengan keadaan tubuh mereka penuh dengan sopak dan kusta. Mereka adalah
orang yang durhaka kepada orang tuanya.
11.
Dibangkitkan
dari kubur dengan keadaan buta, gigi mereka memanjang seperti tanduk lembu
jantan, bibir mereka melebar sampai ke dada dan lidah mereka terjulur memanjang
sampai ke perut. Perutnya pula menggelebeh hingga ke paha dan keluar beraneka
kotoran. Mereka adalah orang yang minum arak.
12.
Dibangkitkan
dari kubur dengan keadaan wajah yang bersinar-sinar bercahaya laksana bulan
purnama. Mereka melalui titian sirath seperti kilat yang menyambar.
Mereka adalah orang yang beramal soleh dan banyak berbuat baik, selalu menjauhi
perbuatan durhaka, mereka memelihara salat lima waktu, ketika meninggal dunia
keadaan mereka bertaubat dan mendapat ampunan, kasih sayang dan keridhaan
Allah.
Barisan
di Mahsyar
Di padang mashyar nanti bendera-bendera
dipasang oleh pemimpin-pemimpin kebenaran dan di bawahnya terdapat
barisan-barisan pengikutnya. Bendera itu dipasang dan dikibarkan oleh:
1. Bendera liwaus shidqi
(Kebenaran) dikibarkan oleh Abu Bakar Al-Shiddiq bagi semua orang yang benar dan jujur akan
berada di bawah bendera tersebut.
2. Bendera fuwaha'
untuk Mu'adz bin Jabal bagi semua orang yang alim fiqih akan
berada dan berbaris di bawah bendera panji-panji ini.
3. Bendera zuhud untuk
Abu Dzar Al-Ghiffari bagi semua manusia yang menjiwai dan
membudi daya dengan zuhud akan berada di bawah bendera ini.
4. Bendera dermawan
untuk Utsman bin Affan bagi para dermawan akan berada di
bawahnya.
5. Bendera syuhada
untuk Ali bin Abi Thalib bagi setiap orang yang mati syahid sama
berbaris di bawah bendera ini.
6. Bendera qurra'
untuk Ubay bin Ka'ab bagi para qari' sama berbaris di bawah
bendera panji-panji ini.
7. Bendera mu'adzin
untuk Bilal bin Rabah bagi para mu'adzin akan berada pada
barisan di bawah bendera ini.
8. Bendera orang-orang
yang dibunuh dengan aniaya untuk Husain
bin Ali
bagi orang-orang yang dibunuh dengan aniaya akan berada di bawah bendera ini.
Tujuh
orang yang mendapatkan naungan
Di Mahsyar dengan suhu yang sangat panas di
hari hisab, tentulah para manusia menjadi bingung dan panik ingin mencari
tempat perlindungan, dan pada hari itulah manusia akan berkata: "Ke mana
tempat lari?". Dalam Al-Quran disingkapkan dengan tegas dan jelas sekali
perihal keadaan itu sebagaimana firman Allah yang berbunyi:
Pada hari itu manusia berkata: 'Kemana
tempat lari?' Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! (Al-Qiyamah
75:10-11)
|
Tetapi
dengan kehendak Allah akan terdapat beberapa orang yang mendapatkan naungan,
tetapi tidak semua manusia dapat berteduh di bawahnya, itu merupakan rahmat
Allah dan naungannya. Ada tujuh orang yang akan mendapatkan naungan dari Allah
dengan rahmatNya pada hari yang tiada naungan selain naunganNya ialah:
1. Penguasa/ pemimpin
yang adil.
2. Seorang remaja yang
mengawali keremajaannya dengan beribadah kepada Allah.
3. Seorang lelaki yang
hatinya dipertautkan dengan masjid-masjid.
4. Dua orang yang
saling cinta-mencintai karena Allah, yakni yang keduanya berkumpul dan berpisah
kerana Allah.
5. Seorang lelaki yang
ketika dirayu oleh wanita bangsawan lagi rupawan, lalu ia menjawab:
"Sesungguhnya aku takut kepada Allah".
6. Seorang yang
mengeluarkan sedekah dan disembunyikan, sampai tangan kirinya tidak mengetahui
apa yang diperbuat oleh tangan kanannya itu (artinya dia bersedekah dan tidak
menceritakan sedekahnya itu kepada orang lain).
7. Seorang yang
berzikir kepada Allah di tempat yang sunyi, sehingga kedua matanya mencucurkan
air mata."
3. Hisab
Hisab artinya penghitungan”. Setelah manusia dibangkitkan dari alam kubur,
lalu dikumpulkan di padang mahsyar, tahap berikutnya adalahpenghitungan amal
manusia selama berada di dunia.setiap perbuatan, sikap perilaku, tindakan dan
ucapan dihitung dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allas SWT.,dan
pengadilan itu akan dipimpin oleh hakim tunggal, yaitu Allah SWT., sehingga
tidak akan terjadi kedzaliman atau kecurangan di dalam memutuskan suatu perkara
manusia.
Pada saat itu suasna sanagat mencekam dan menakutkan. Proses penerimaan
catatan amal dilakukan dengan cara yang berbeda . ada yang menerima dengan
tangan kanan, ada yang dengan tangan kiri, ada pula yang menerimanya dengan
wajah yang riang dan ada pula yang menerimanya dengan wajah murung dan penuh
kesedihan dan penyesalan. Allah berfirman :
Artinya:
“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, Maka Dia akan
diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, Dan Dia akan kembali kepada kaumnya
(yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang-orang yang diberikan
kitabnya dari belakang, Maka Dia akan berteriak: "Celakalah aku". Dan
Dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya Dia
dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). (QS.
Al-Insyiqaq : 7 – 12 )
4. Mizan
Mizan menurut bahasa berarti “ timbangan”. Menurut istilah mizan ialah
timbangan untuk mengukur amal perbuatan manusia selama di dunia, antara amal
yang baik dan yang jelek. Semua amal akan ditimbang tanpa kecuali baik yang
terlihat maupun yang tidak. Hasil timbangan itulah yang akan menentukan nasib
manusia di akhirat, bakal sengsara atau bahagia. Jika timbangan kebaikannya
lebih berat dari keburukannya, maka kenikmatan surge akan menyambutnya. Namun,
bagi timbangan amal jelek atau dosanya lebih berat, maka nyala api neraka siap
melahapnya. Allah SWT. berfirman :
Artinya: “Kami
akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, Maka Tiadalah dirugikan
seseorang barang sedikitpun. dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun
pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. dan cukuplah Kami sebagai Pembuat
perhitungan. (QS. Al-Anbiya : 47).
Asal-Usul Penciptaan Alam Semesta Berdasarkan Perspektif Al-Qur’an
Penciptaan
menurut kamus besar Bahasa Indonesia berarti proses, cara, perbuatan
menciptakan.Para ilmuwan diseluruh dunia saat ini telah sepakat bahwa
alam semesta ini terjadi dari tiada secara kebetulan dan menimbulkan dentuman
besar. Ke-tiada-an (berasal dari tidak ada) adalah menunjukan akan adanya
penciptaan (diciptakan).
Selama satu abad
terakhir, serangkaian percobaan, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan
menggunakan teknologi mutakhir, telah mengungkapkan tanpa ragu bahwa alam
semesta memiliki permulaan. Para ilmuwan telah memastikan bahwa alam semesta
berada dalam keadaan yang terus mengembang. Dan mereka telah menyimpulkan
bahwa, karena alam semesta mengembang, jika alam ini dapat bergerak mundur
dalam waktu, alam semesta ini tentulah memulai pengembangannya dari sebuah
titik tunggal. Sungguh, kesimpulan yang telah dicapai ilmu pengetahuan saat ini
adalah alam semesta bermula dari ledakan titik tunggal ini. Ledakan ini disebut
“Dentuman Besar” atau Big Bang.
Adapun ayat-ayat yang menjelaskan
bahwa Allah SWT-lah yang telah menciptakan alam semesta adalah :
اللَّهُالَّذِيخَلَقَالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضَوَمَابَيْنَهُمَافِيسِتَّةِأَيَّامٍثُمَّاسْتَوَىعَلَىالْعَرْشِمَالَكُمْمِنْدُونِهِمِنْوَلِيٍّوَلَاشَفِيعٍأَفَلَاتَتَذَكَّرُونَ
Artinya: “Allah-lah yang telah
menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dalam waktu
enam hari, kemudian dia bersemayam di atas Arsy. Kamu semua tidak memiliki
seorang penolong dan pemberi syafaat pun selain diri-Nya. Lalu, apakah kamu
tidak memperhatikannya ?”(Q.S. Al-Sajdah [32] :4 )
Ayat ini
menerangkan bahwa Tuhan yang telah menurunkan Alquran kepada Muhammad saw itu
adalah Tuhan Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara
keduanya dalam enam masa. Yang dimaksud dengan enam masa dalam ayat ini
bukanlah hari (masa) yang dikenal seperti sekarang ini, tetapi adalah hari
sebelum adanya langit dan bumi. Hari pada waktu sekarang ini adalah setelah
adanya langit dan bumi serta telah adanya peredaran bumi mengelilingi matahari
dan sebagainya.
Setelah Allah
menciptakan langit dan bumi, maka Dia pun bersemayam di atas Arasy, sesuai
dengan kekuasaan dan kebesaran-Nya.Allah SWT menegaskan bahwa tidak seorangpun
yang dapat mengurus segala urusannya, menolak bahaya, malapetaka dan siksa. Dan
tidak seorangpun yang dapat memberi syafaat ketika azab menimpanya, kecuali
Allah semata, karena Dialah Yang Maha Kuasa menentukan segala sesuatu.Kemudian
Allah SWT memperingatkan: “Apakah kamu hai manusia tidak dapat mengambil
pelajaran dan memikirkan apa yang selalu kamu lihat itu? Kenapa kamu masih juga
menyembah selain Allah?(Sumber: Tafsir Depag)
مَاأَشْهَدْتُهُمْخَلْقَالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضِوَلَاخَلْقَأَنْفُسِهِمْوَمَاكُنْتُمُتَّخِذَالْمُضِلِّينَعَضُدًا
Artinya: “aku tidak menghadirkan
mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi
dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah aku mengambil
orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.”(Q.S. Al-Kahfi [18]
:51 )
Dalam ayat ini
Allah SWT menerangkan kekuasaan-Nya, dan bahwa setan itu tidak berhak untuk
menjadi pembimbing atau pelindung bagi manusia. Setan itu tidak mempunyai hak
sebagai pelindung, tidak hanya disebabkan kejadiannya dari lidah api saja
tetapi juga karena mereka tidak mempunyai saham dalam menciptakan langit dan
bumi ini. Allah SWT menegaskan bahwa iblis dan setan-setan itu tidak dihadirkan
untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi ini, di kala Allah menciptakannya,
bahkan tidak pula penciptaan dari mereka sendiri, dan tidak pula sebagian
mereka menyaksikan penciptaan sebagian yang lain. Bilamana mereka tidak hadir
dalam penciptaan itu, bagaimana mungkin mereka memberikan pertolongan dalam
penciptaan tersebut.
Patutkah
setan-setan itu dengan keadaan demikian dijadikan sekutu Allah? Allah SWT dalam
menciptakan langit dan bumi ini tidak pernah sama sekali menjadikan
setan-setan, berhala-berhala, sembahan-sembahan lainnya sebagai penolong, hanya
Dia sendirilah yang menciptakan alam semesta ini, tanpa pertolongan siapapun.
Bilamana setan-setan itu dan berhala-berhala itu tidak ikut serta dalam
menciptakan itu tentulah mereka tidak patut dijadikan sekutu Allah dalam
peribadatan seseorang hamba Nya. Sebab orang yang ikut disembah yang ikut pula
dalam penciptaan bumi dan langit ini. Sekutu dalam penciptaan, sekutu pula
dalam menerima ibadah. Dan sebaliknya tidak bersekutu dalam penciptaan, tidak
bersekutu pula dalam menerima ibadah.
هُوَالَّذِيخَلَقَلَكُمْمَافِيالْأَرْضِجَمِيعًاثُمَّاسْتَوَىإِلَىالسَّمَاءِفَسَوَّاهُنَّسَبْعَسَمَاوَاتٍوَهُوَبِكُلِّشَيْءٍعَلِيمٌ
Artinya :“ Dia-lah Allah, yang
menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan)
langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala
sesuatu.”(Q.S. Al-Baqarah [2] :29 )
(Dia-lah
Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu); sebagai kemuliaan
dari-Nya dan nikmat bagi manusia serta perbekalan hidup dan kemanfaatan untuk
waktu tertentu. (dan Dia berkehendak [menciptakan] langit); lafazh “Tsummas
tawa: (artinya): ‘dan Dia berkehendak (menciptakan)’ ”, mashdar/kata bendanya
adalah istiwa’. Jadi, al-Istiwa’ artinya meninggi dan naik keatas sesuatu
sebagaimana makna firman Allah Ta’ala (dalam ayat yang lain-red): “Apabila kamu
dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu…”.
(QSAl-Mu’minun/23:28). (lalu dijadikan-Nya); meluruskan (menyempurnakan)
penciptaannya (langit) sehingga tidak bengkok (tidak ada cacat didalamnya-red)
[Zub]. (tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu); meskipun
demikian Ilmu-Nya mencakup segala sesuatu, Maha Suci Dia Yang tiada ilah dan
Rabb (Yang berhak disembah) selain-Nya. (Sumber: Tafsir Depag).
Dari ketiga ayat di atas ini
menunjukan bahwa Allah SWT lah dengan segala ke maha kuasaan-Nya yang
telah menciptakan alam semesta, tanpa ada campur tangan dari siapapun. Ketiga
ayat di atas pun sekaligus menentang pada pernyataan para philosof materalis
yang mengatakan bahwa “alam semesta ini telah ada sejak dulu tanpa ada
perubahan apapun dan akan tetap menjadi seperti ini sampai akhir nanti.” (Harun
Yahya).
Fase-Fase Penciptaan Alam Semesta Menurut Al-Quran
Kamus Besar
Bahasa Indonesia mendefinisikan kata ‘fase’ adalah tingkatan masa (perubahan,
perkembangan, dsb)[1]. Sehingga dapat disimpulkan perkembangan ataupun
perubahan tahap-tahap penciptaan alam semesta dalam hal ini ditinjau dari
al-Qur’an dan tidak lupa juga menyertakan penjelasan di dalam Hadits. Akan
tetapi, menyusun tahapan penciptaan alam semesta di dalam a-Qur’an bukan
perkara yang mudah – disamping minimnya referensi terutama asbabun nuzul
(sebab-sebab turunnya ayat) ataupun penjelasan dari hadits berkaitan dengan
fase-fase penciptaan diperparah dengan kemunculan cerita-cerita dari Israiliyat
dan hadits yang dlaif maupun maudlu (palsu).
Sebab, dari segi
susunan ayat yang menerangkan tahapan penciptaan di dalam al-Qur’an seolah
mengalir seperti firman Allah di dalam surat Fushilat ayat 9-12. Tidak seperti
puzzle yang memang harus disusun sehingga membentuk satuan gambar yang utuh
bisa dikenali. Namun, jika disusun seperti puzzle yang pernah kita mainkan maka
akan membentuk sebuah gambaran penciptaan alam semesta yang saat ini dunia akui
keabsahannya dari berbagai rangkaian eksperimen dan bukti yang otentik.
Enam Masa Penciptaan Alam Semesta
Al-Qur’an menyebutkan dalam sittati
ayyaamin yang berarti enam masa yang panjang.
Sebagaimana dalam
al-qur’an (Q.S. Al-Sajdah [32] :4 ):
اللَّهُالَّذِيخَلَقَالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضَوَمَابَيْنَهُمَافِيسِتَّةِأَيَّامٍثُمَّاسْتَوَىعَلَىالْعَرْشِمَالَكُمْمِنْدُونِهِمِنْوَلِيٍّوَلَاشَفِيعٍأَفَلَاتَتَذَكَّرُونَ
Artinya : “Allah-lah yang telah
menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dalam waktu
enam hari, kemudian dia bersemayam di atas Arsy.Kamu semua tidak memiliki
seorang penolong dan pemberi syafaat pun selain diri-Nya. Lalu, apakah kamu
tidak memperhatikannya ?”
Dari ayat di atas
Allah SWT menyebutkan penciptaan langit dan bumi dalam enam masa (sittati
ayyaamin) selanjutnya para mufasir bersepakat dalam menafsirkan ayat ini, bahwa
yang disebut dengan (sittati ayyaamin) adalah enam tahapan atau proses
bukan enam hari sebagaimana mengartikan kata ayyaamin.
Adapun kronologis penciptaan dalam
Al-Qur’an adalah :
Fase Pertama
َوَلَمْيَرَالَّذِينَكَفَرُواأَنَّالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضَكَانَتَارَتْقًافَفَتَقْنَاهُمَاوَجَعَلْنَامِنَالْمَاءِكُلَّشَيْءٍحَيٍّأَفَلَايُؤْمِنُون
Artinya: “Dan apakah
orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya
dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya…”(Q.S.
AlAnbiya [21] :30)
Ini dimulai
dengan sebuah ldakan besar (bigbang) sekitar 12-20 miliar tahun lalu.Inilah
awal terciptanya materi, energy, dan waktu. “Ledakan” pada hakikatnya adalah
pengembangan ruang.Materi yang mula-mula terbentuk adalah hydrogen yang menjadi
bahan dasar bagi bintang-bintang generasi pertama.Hasi fusi nuklir antara
inti-inti hydrogen, meghasilkan unsure-unsur yang lebih berat, seperti karbon,
oksigen, sampai besi atau disebut juga Nukleosintesis Big Bang.
Nukleosintesis Big Bang terjadi
pada tiga menit pertama penciptaan alam semesta dan bertanggung jawab atas
banyak perbandingan kelimpahan 1H (protium), 2H (deuterium), 3He (helium-3),
dan 4He (helium-4),
di alam semesta.Meskipun 4He terus saja dihasilkan oleh
mekanisme lainnya (seperti fusi bintang dan peluruhan alfa) dan jumlah
jejak 1H terus saja dihasilkan oleh spalasi dan
jenis-jenis khusus peluruhan radioaktif (pelepasan
proton dan pelepasan
neutron), sebagian besar massa isotop-isotop ini
di alam semesta, dan semua kecuali jejak-jejak yang tidak signifikan dari 3He
dan deuterium di alam semesta yang dihasilkan oleh proses langka seperti peluruhan
kluster, dianggap dihasilkan di dalam proses Big Bang. Inti atom unsur-unsur ini,
bersama-sama 7Li, dan 7Be diyakini terbentuk
ketika alam semesta berumur 100 sampai 300 detik, setelah plasma kuark–gluon primordial
membeku untuk membentuk proton dan neutron. Karena periode nukleosintesis Big
Bang sangat singkat sebelum terhentikan oleh pengembangan dan pendinginan,
tidak ada unsur yang lebih berat daripada litium yang
dapat dibentuk.(Unsur-unsur terbentuk pada waktu ini adalah dalam keadaan
plasma, dan tidak mendingin ke keadaan atom-atom netral hingga waktu lama).
Fase Kedua
هُوَالَّذِيخَلَقَلَكُمْمَافِيالْأَرْضِجَمِيعًاثُمَّاسْتَوَىإِلَىالسَّمَاءِفَسَوَّاهُنَّسَبْعَسَمَاوَاتٍوَهُوَبِكُلِّشَيْءٍعَلِيمٌ
Artinya : “Dia-lah Allah,
yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak
(menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui
segala sesuatu” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 29)
Masa ini adalah
pembentukan langit. Pengetahuan saat ini menunjukan bahwa langit biru hanyalah
disebabkan hamburan cahaya matahari oleh partikel-partikel atmosfer. Di luar
atmosfer langit biru tak ada lagi, yang ada hanyalah titik cahaya bintang ,
galaxy, dan benda-benda langit lainnya. Jadi, langit bukanlah hanya kubah biru
yang ada di atas sana, melainkan keseluruhan yang ada di atas sana
(bintang-bintang, galaxy, dan benda-benda langit lainnya), maka itulah hakikat
langit yang sesungguhnya. Adapun dalam fase ini, pembentukan bintang-bintang di
dalam galaxy yang masih berlangsung hingga saat ini.
Fase Ketiga
Pada masa ini
dalam penciptaan alam semesta adalah proses penciptaan tata surya, termasuk
bumi. Selain itu pada masa ini juga terjadi proses pembentukan matahari
sekitar 4,6 miliar tahun lalu dan mulai di pancarkannya cahaya dan angin
matahari. Proto-bumi (bayi bumi) yang telah terbentuk terus berotasi
menghasilkan fenomena siang dan malam di bumi sebagaimana yang Allah SWT
firmankan dengan indah :
وَأَغْطَشَلَيْلَهَاوَأَخْرَجَضُحَاهَا
Artinya : “dan Dia
menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang.” Q.S
An-Nazi’at [79] : 29
Fase Keempat
Bumi yang
terbentuk dari debu-debu antarbintang yang dingin mulai menghangat dengan
pemanasan sinar matahari dan pemanasan dari dalam (endogenik) dari peluruhan
unsure-unsur radioaktif di bawah kulit bumi.
Akibat pemanasan
endogenik itu materi di bawahkulit bumi menjadi lebu,antara lain muncul sebagai
lava dari gunung api. Batuan basalt yang menjadi dasar lautan dan granit
yang menjadi batuan utama di daratan merupakan hasil pembekuan materi leburan
tersebut. Pemadatan kulit bumiyang menjadi dasar lautan dan daratan itulah yang
tampaknya dimaksudkan “penghamparan bumi” .sebagaimana Allah SWT berfirman :
وَالْأَرْضَبَعْدَذَلِكَدَحَاهَا
Artinya :“dan bumi sesudah itu
dihamparkan-Nya.”(Q.S. an-Naziat [79] :30)
Fase Kelima
Hadirnya air dan atmosfer di bumi
menjadi prasyarat terciptanya kehidupan di bumi. Sebagaimana firmanAllah SWT :
…وَجَعَلْنَامِنَالْمَاءِكُلَّشَيْءٍحَيٍّأَفَلَايُؤْمِنُونَ
Artinya :“…dan dari air Kami
jadikan segala sesuatu yang hidup… “ (Q.S. al-anbiya [21] : 30
Selain itu,
pemanasan matahari menimbulkan fenomena cuaca dibumi, yakni awan dan
halilintar. Melimpahnya air laut dan kondisi atmosfer purba yang kaya akan gas
metan (CH4)dan ammonia (NH3) serta sama sekali tidak mengandung oksigenbebas
dengan bantuan energy listrik dan halilintar diduga menjadi awal
kelahiran senyawa organic.Senyawa organic yang mengikuti aliran air
akhirnya tertumpuk di laut. Kehidupan diperkirakan bermula dari laut yang
hangat sekitar 3,5 miliar tahun lalu berdasarkan fosil tertua yang pernah
ditemukan. Sebagaimana dikembalikan pada surat Al Anbiya [21] ayat 30 yang
telah menyebutkan bahwasannya semua makhluk hidup berasal dari air.
Fase Keenam
Masa keenam dalam
proses penciptaan ala mini adalah dengan lahirnya kehidupan di bumi yang
dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan.Hadirnya tumbuhan dan
proses fotosintesis sekitar 2 miliar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai
terisi dengan oksigen bebas. Pada masa ini pula proses geologis yang
menyebabkan pergeseran lempengan tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di
bumi terus berlanjut.
Setelah mengkaji
cara Al-Quran menjelaskan tentang penciptaan alam semesta. Penulis menyadari
bahwa ilmu pengetahuan dan Al-Qur’an adalah bagaikan dua sisi mata uang yang
tak bisa dipisahkan antara satu sama lainnya. Seperti yang penulis kutip dari
seorang ilmuan besar Albert Einsten: ”religion without science is blind and
science without religion is damage.” (Albert Einstein, 1960)
Ilmu yang tidak
disertai dengan agama akan hancur dan tumbang karena tidak adanya kekuatan
iman. Sedangkan agama tanpa ilmu akan menjadi rusak karena akan dapat salah
mengartikannya. Sebagaimana orang-orang materalis yang selalu menentang akan
adanya penciptaan alam semesta. Ini merupakan contoh yang sangat
signifikan jika ilmu pengetahuan tidak disertai dengan ajaran-ajaran
agama.
MAHKLUK CIPTAAN ALLAH SWT
1.
MALAIKAT
-
Para Malaikat di ciptakan dari Nur (Cahaya),
- Malikat Roqib,
Atid, 8 Hamlatul Arsy, Muharobin di ciptakan dari Jasad Malaikat Israfil
- Malaikat
Karobiyyun di ciptakan dari Air mata Malikat Mikail
- Malaikat
Ruhaniyyun di ciptakan dari Air yang menetes dari Sayap Malikat Jibril
kepalanya
terbuat dari Kafur. Seandainya bidadari itu meludah sekali di dunia, maka
jadilah semua air di dunia Kasturi. Di dadanya tertulis nama suaminya dan
nama-nama ALLAH SWT. Pada setiap tangan dari kedua tangannya terdapat sepuluh
gelang dari emas, sedangkan pada jari-jarinya terdapat sepuluh cincin, dan pada
kedua kakinya terdapat sepuluh binggal(gelang kaki) dari Jauhar dan permata.
- riwayat lain menjelaskan bahwa Bidadari diciptakan
dari tetesan hujan dari awan di bawah Arsy dan Bidadari diciptakan langsung
jadi gadis perawan dan terus gadis perawan.
3.IBLIS
Iblis
diciptakan dari api seperti semua jenis jin. Dikatakan ia diciptakan dari
“nyala api yang berkobar” yaitu dari sisi nyala api yang paling bersih dan paling
baik.
4. JIN
-
Jin diCiptakan dari Lidah Nyala Api yaitu nyala api yang warnanya Kuning dan
keHijauan yang membumbung ke atas ketika Api dinyalakan (HR. Abu Abdullah
Al-Faryan)
- Jin itu diciptakan dari Api Matahari (HR. Ibnu Abu
Hatim)
5. MANUSIA
(Adam)
diciptakannya Adam oleh
Allah dari segumpal tanah liat yang kering dan lumpur hitam yang dibentuk
sedemikian rupa. Setelah disempurnakan bentuknya, maka ditiupkanlah roh ke
dalamnya sehingga ia dapat bergerak dan menjadi manusia yang sempurna.
6. MANUSIA
WANITA (Hawa)
“Berbuat baiklah kepada
wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan
sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas.Maka
sikapilah para wanita dengan baik.” (HR al-Bukhari Kitab an-Nikah no 5186)
7. MANUSIA (Keturunan Adam & Hawa)
Di ciptakan dari pembuahan
Ovarium dari Ibu yang bercampur Sperma Ayah, sehingga membentuk nutfah,
segumpal daging dan membentuk tulang dan jadilah janin cikal bakal Bayi manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar